Feeds:
Pos
Komentar

kalo disini masih bahagia

Kalau engkau berkata tidak, maka satukanlah jiwa kami….tapi bila tidak untuk kedua kalinya, ceraikan beraikan rasa kami

Posted with WordPress for BlackBerry.

Duniaku yang terpaku


Dahulu adalah aku, yang tersangkut senyum manismu lalu kau menuntun hatiku untuk memasuki hatimu.

Dahulu adalah Aku, Yang terlena terbuai lembut jiwamu dan tak mau pergi dari kungkungan itu, walau semakin lama terasa menyakitkan jua.

Tapi sekarang adalah AKu,  yang tegar dengan air mata yang mengental lalu mengeras sekeras batu cadas, menantang derita tanpa kata dan keluhan.

Sekarang adalah Aku,  yang tak pernah lari dari kenyataan pahit…dan menerima semua keputusanmu tanpa sedikitpun menyesal dengan keputusanku.


Senin yang manis di awal tahun 2010

Kemaren aku masih teringat ketika aku pandang foto itu masih terpampang di pojok kamar itu, dan suasana hati saat itu terbawa pada

Catatan pinggir GM




Usinara

Senin, 04 Januari 2010

ALKISAH, seekor burung deruk yang luka terbang, panik, ketakutan, dan putus asa. Di belakangnya seekor lang memburu. Terdesak, deruk itu pun menerobos masuk lewat sebuah tingkap, dan terjatuh di sebuah bilik yang lengang.

Di ruang puri itu, Raja Usinara sedang duduk, membaca, hanya ditemani dua orang abdi.

Burung malang yang terlontar di kaki baginda itu berkata, ”Tolonglah saya!” Suaranya lamat-lamat.

Usinara melihat tubuh unggas itu berdarah. Burung itu pun diangkatnya, dan disuruhnya salah satu abdi membawa air dan obat. Ketika ia bersihkan luka itu dengan hati-hati, tiba-tiba terdengar suara yang membentak, berat dan gelap, dari arah jendela: ”Kembalikan ia kepadaku!”

Di bendul jendela itu dilihatnya seekor lang besar dengan pandang yang liar. ”Deruk itu milikku!” lang itu berkata. ”Aku telah berhasil menggigitnya: itulah tanda ia mangsaku. Hukum perburuan menentukan demikian. Berikan kembali ia kepadaku. Lihat, aku gemetar. Aku lapar. Sudah sepekan aku tak memangsa apa-apa.”

Untuk beberapa saat Usinara yang terkejut itu kehilangan kata-kata. Tapi akhirnya raja yang lembut hati itu—yang juga melihat bagaimana lang itu memang gemetar karena lapar—menawarkan sebuah jalan lain: ia akan memberikan daging apa saja yang diminta burung buas itu asal deruk itu dibebaskan.

”Kau bilang daging apa saja?”

”Ya, apa saja yang kau minta.”

Tak terduga-duga, lang itu berkata, ”Kau gantikan daging deruk itu dengan dagingmu sendiri.”

Usinara terhenyak. Ia sadar ia terjebak janji yang sulit. Tapi ia tak hendak ingkar. ”Berapa banyak?” tanyanya.

”Seberat tubuh deruk itu saja,” jawab si lang.

Maka dacin pun disiapkan dan belati yang tajam dihunus. Burung kecil itu pun ditimbang, juga kemudian daging dari tubuh Usinara yang dikerat. Dalam jumlah kati yang sama daging segar itu disajikan ke depan si lang, yang memakannya dengan lahap.

Tapi begitu serpihan daging terakhir lenyap di paruhnya yang menakutkan, burung buas itu berkata, ”Aku masih lapar.” Dan ia menuduh Usinara ingkar janji. ”Kau berdusta. Daging yang kau berikan pasti masih kurang dibanding dengan berat badan deruk mangsaku. Ia harus ditimbang lagi!”

Mendengar itu, Usinara pun menyuruh tubuh deruk itu diletakkan di dacin kembali. Ternyata benar: badan unggas itu jauh lebih berat dari semula. Bahkan hampir seberat tubuh sang raja.

Meski terkejut dan pucat, Usinara mengambil belati dan merenggutkan jangatnya sendiri, sepotong demi sepotong. Darah membasah di ruang itu. Tampak baginda menahan sakit, tubuhnya kian lama kian lemah, dan akhirnya rubuh….

Dalam kisah yang terselip di antara ribuan seloka Mahabharata ini (yang saya ceritakan kembali dengan variasi saya sendiri), Usinara tidak mati. Lang pemangsa dan mangsanya yang luka itu sebenarnya dewa-dewa; mereka datang untuk menguji amal sang raja….

Tapi bagi saya, kehadiran para dewa justru tak penting dalam kisah ini. Yang membuat kita terpukau ialah bahwa Usinara tak tahu apa yang akan terjadi dengan dirinya. Ia masuk ke dalam situasi itu begitu saja semata-mata untuk menyelamatkan seekor burung yang tak berdaya. Kisah Usinara adalah kisah pengorbanan diri yang radikal.

Dalam Mahabharata, tokoh Bhisma juga sebuah tauladan pengorbanan: putra mahkota itu berjanji tak akan naik takhta, juga tak akan kawin dan punya anak, demi kebahagiaan ayahnya. Tapi Bhisma telah meniadakan masa depannya untuk seorang yang sedarah. Usinara sebaliknya: ia berikan raga dan nyawanya untuk keselamatan makhluk lain yang tak ia kenal. Ia melakukan yang tak berhingga. Ia kerelaan tak berbatas.

Maka kita terpana—juga karena yang dilakukan Usinara sesuatu yang sama sekali baru. Keputusannya tak dianjurkan adat dan tak diatur hukum. Justru ia melampaui hukum, melebihi moralitas—dan mencapai dasar yang ”ethikal”, yakni semacam kebaikan budi, atau cinta kasih, yang memberikan segalanya, menanggungkan segalanya, demi liyan: bagi yang bukan bagian diriku, bukan kaumku, melainkan ia yang terpuruk di luar pintuku, yang tak kukenal—yang tak akan memberikan apa pun kepadaku, tapi terancam, ketakutan, tertindas, menderita.

Dan Usinara memberikan dirinya bukan karena patuh kepada aturan atau taat kepada Tuhan. Usinara tak dikendalikan pamrih, tak menuruti kalkulasi dosa & pahala yang sering dilakukan orang beragama dalam tata buku moral mereka. Lakunya adalah laku kemerdekaan.

Apa gerangan yang mendorongnya? Adakah imbauan dari yang ”ethikal” hanya terjadi pada tokoh dongeng? Mungkinkah kebaikan budi itu menggerakkan hati orang pada umumnya?

Tak setiap orang Usinara, tentu. Tapi dalam pengalaman manusia ada perbuatan yang, meskipun tak dramatis, paralel dengan yang dilakukan raja itu: satu hal yang menyebabkan kita berpikir, mengikuti postulat Kant, bahwa dalam diri manusia ada yang menyebabkan dirinya—dengan otonomi penuh, dengan kemauan bebas—menghormati dan mematuhi panggilan ”hukum moral”: diam-diam seorang wartawan menampik bayaran uang untuk menulis fitnah, menolak juga godaan untuk jadi pahlawan. Diam-diam seorang pejabat memilih diberhentikan ketimbang mematuhi perintah atasan yang melanggar hukum….

Tapi apa itu sebenarnya, dari mana datangnya das Faktum der Vernunft itu? Tak bisa dijelaskan. Faktum itu tak mungkin ditunjukkan di dunia empiris. Kita, kata Kant, hanya ”mengerti ketidakmungkinannya untuk dimengerti”.

Mungkin justru sebab itu kita takjub: Usinara tak bertolak sebagai ”aku” yang telah merumuskan apa itu kebaikan budi. Ia bukan ”aku” di pusat situasi. Kita takjub karena ia mengatasi keterbatasan dirinya justru ketika ia merasa, di saat yang konkret itu, imbauan makhluk yang terancam itu adalah segala-galanya.

Selebihnya, juga dirinya sendiri, hanya turahan.

Goenawan Mohamad

Orang itu

Setelah itu,  saya baru sadar bahwa anda adalah yang terbaik bagi saya,   dan anda sangat mengerti bahasa saya, sehingga tahu keinginan segelas bir telah terpenuhi tanpa harus buka kamus lagi. Tapi ini bukan berarti bahwa anda tak patut saya kritik, karena walau bagaimanapun anda tak pantas memohon uang 3000 malam-malam di tempat saya, dengan alasan kecopetan. Meski malam itu saya masih merasa kaget, tapi saya menghargai kesopanan anda dalam meminta.

jam 12 atau jam 2???

PERTARUHAN  RASA MALU

SURABAYA PLAZA HOTEL

Sesuatu yang aku takutkan akhirnya terjadi juga.  Siang itu adalah pembataian paling  sadis sejak tiga tahun terakhir aku rasakan. Pembantaian itu terjadi di ruang dingin sepi, oleh seorang yang pernah tinggal satu atap denganku setahun lebih dalam pengangguran,  dalam arena pembantaian tak ada tangis atau sedih, malah sebaliknya menghadirkan tawa yang di sembunyikan, atau persisnya tawa yang di silent.

Tahulah bahwa aku sedang disekap, di interogasi dengan beberapa pertanyaan, dicecar dengan perkataan yang hampir tidak dapat dicerna. Terus terang, aku tidak merasa terintimidasi dengan pertanyaannya itu, tapi aku sangat merasa ketakutan dengan bahasanya. seandainya dia, kalaupun mau menggertakku dengan suara yang setara dengan Soundsystem 2000 watt, aku tak akan gentar sedikitpun jika dengan bahasa yang sama denganku. tapi ini lain, dan sungguh sangat lain. Aku sangat, sangat, sangat, dan sangat merasa terintimidasi dengan bahasa itu………..

Di ruang itu aku seperti boneka yang bisa bicara, tapi hanya terbatas, yes dan no, cuma itu yang keluar, dan cuma itu yang bisa dilakukan setelah bingung dengan pertanyaan yang tidak juga bisa di mengerti, sungguh bahasa yang sulit dicerna oleh kegoblokanku.


Bersembunyi dibalik Tuhan

Di malam 22 November 2009,

Aku ingin mengatakan sesuatu padamu….bahwa aku sangat peduli tentang kebahagiaanmu, sama seperti aku pedulikan hidupku sendiri. Ketika aku berani menerima sinar mentari dan kehangatan, aku harus juga menerima guntur dan kilatnya, tak terpikir sedikitpun untuk berlalu darimu meski kau selalu membelakangiku dan tak mau sedikitpun menoleh kearahku, aku tahu itu sejak dulu sejak pertama kau mengenalku dan bahkan ketika kau tak mau tahu tentangku dan perasaanku. karena aku tahu, begitu  namamu kusebut, kau akan memberikan arti yang lain daripada makna yang hidup di hatiku.

Kucoba malam ini, ketika kusapa engkau lewat tulisan ini, harapanku adalah; semoga kau membalasku dikejauhan sana, saat ketika kau baca tulisanku, tak peduli besok atau lusapun tiada berarti pula bagiku . sebab tak ada hak bagiku untuk  menginginkan lebih, kecuali  dari sekedar menatap fotomu yang belum sempat kau izinkan, dan memperhatikan  sesuatu tentangmu yang barangkali tak penting bagimu.

Bersama Aroma rokok bercampur harum melati yang terus memenuhi saraf kecilku, bunga kecil yang aku petik dari rimbun yang basah, menemaniku menuntaskan apa yang terasa. Dinginnya malam ini memeluk tubuhku menyampaikan pesan bahwa malam ini semakin larut, dan sepi. Dan semakin bergetar menuliskan semua yang tersimpan dari sisa yang terasa, atau dari perasaan yang terendap sejak Sembilan tahun lalu. aku harus tetap bersemangat – menangkap Salah satu dari perasaan yang beterbangan untuk aku rangkai dalam kata – Aku melihat secara keseluruhannya! Aku harus mengirimkan tulisan ini padamu.

Nensi….

Sejak aku memastikan bahwa kau benar-benar telah ada dalam list facebook ku, Aku kembali menanti saat engkau sedang bersiap untuk aktifitasmu, senam pagimu, dan semua yang tidak semua aku ketahui tentang dirimu saat ini. Yang bisa kubaca setiap hari hanya statusmu, komentar-komentarmu, upload fotomu. Mungkin akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapaKu lewat YM yang selalu kupertahankan untuk available, meskipun itu juga tak bisa kulakukan. Tetapi engkau terlalu sibuk, bagaimana aku Harus menggambarkan kepadamu gambaran hatiku ini yang akan terjadi seperti yang kuharapkan, agar kamu bisa sedikit mengerti tentang aku, meskipun tidak ada lagi hal-hal yang baru dan menarik buatmu.

Aku melihat ke belakang kepada masa-masa awal dari perkenalan  kita, dimana hari-hariku  penuh pengharapan  dan rasa takut. Ketidakberdayaanku mendekatimu, terlukiskan diwajahku sepanjang hari, bahkan guratan lebih jelas terlihat ketika aku melihatmu sepintas atau lebih lama lagi disaat yang sangat tidak tepat. Aku sudah bertahun-tahun melalui masa-masa dengan perasaan itu, yang semakin menghebat dari waktu kewaktu, bahkan tahun-tahun yang terasa kering karena ketidakhadiranmu, tapi itu semua sudah terhapus dari pikiranku, karena gambaran seseorang yang tersayang yang telah kuberikan hatiku untukmu tak mungkin kau terima dengan tangan mu yang lembut itu, yang hanya sekali aku sentuh saat pertama aku berkenalan denganmu. Karena menurut logikaku yang putus asa, DUNIA AKAN TERTAWA dengan keinginanku. Dan aku pun berserah dengan kata terakhir yang tersemat “ bahwa aku tidak akan pernah dapat memiliki dirimu.”

Maka Malam ini aku akan mengatakan kepadamu dengan sisa semangatku yang mulai rapuh, bahwa engkau adalah keajaiban terbesar sepanjang hidupku,persis ketika 9 tahun yang lalu aku berkata pada diriku. Dan saat inipun aku akan hanya berbicara tentang kebenaran yang sederhana, kebenaran hatiku yang pasti bahwa aku begitu mengagumimu, dan kekaguman itu menjelma menjadi cinta yang sulit dituangkan ke dalam kata-kata yang pantas, aku memerlukan suatu suara yang lebih harmonis dibanding suara ngawur yang mengalir saat aku dikuasai alkohol, ketika aku berada dipuncak perasaan yang meletup –

Aku mencintaimu, aku mencintaimu. Nensiku…aku tak sanggup mengulang pernyataan ini berulang kali, aku tak pernah dapat mengungkapkannya sedalam yang kurasakan.

Sejak 9 tahun yang lalu aku telah jatuh cinta padamu, cantikku… tetapi aku baru memulai untuk jatuh cinta padamu dalam hayal dan angan2ku. – Hatimu dan jiwamu terlalu mahal untuk hatiku yang seikat tak laku meski diobral. Percayalah padaku, tidak ada sesuatu pun di atas bumi yang dapat memadani rasa cintaku padamu, bahkan cinta itu sendiri kaget dengan hatiku yang begitu erat mencengkram perasaan itu, begitu panas memeluk kobarannya.

Dan malam ini adalah saat dimana gejolak hatiku tak bisa kubendung lagi, saat keterpaksaan dan saat yang kunantikan sejak dulu …Oh tuhan, mengatakan ini semua, tenggorokanku serasa tersumbat, penglihatanku kabur; lutut gemetar, ah, mengerikan seakan mau mati, ini juga mengerikan untuk mencintai seperti ini! Kamu sangat hebat dalam segalanya. Aku sadar bahwa aku mengagumimu – keseluruhanmu!

Setelah itu, dengan lembut kugigit bibirku, dan mencoba untuk menerima segalanya, menatap ke dalam matamu yang indah. Aku bersandar di dilipatan tanganku, meletakkan kepalaku yang lelah di atas keheningannya. Malam ini aku mencoba untuk tenang dan kuat. Menyatakan cinta dan Selamat tinggal, karena aku hanyalah punguk sederhana yang merindukan rembulan  disiang hari.

Pasal Hati

Segala yang tersirat MENUJU KEBENARAN RASA, yang mencumbu perasaan, MENJADIKAN kuli kuil CINTA, menata dan menghancurkan, MENJANJIKAN dan MENGANCAM, Mengawali AWAL dari AKHIR.

Maka aku akan berdiri setelah lama terbaring.

%d blogger menyukai ini: